Kegiatan seminar tahun ini untuk pertama kalinya diselenggarakan dengan mengusung tema yang sarat makna. Tema tersebut bertujuan membekali serta memotivasi santri agar menjadi independent woman, sehingga kelak mampu berkontribusi dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh ketua panitia kegiatan.
Seminar ini diikuti oleh 1.000 peserta yang terdiri atas 300 utusan IKSASS se-Nusantara, 300 mahasiswa Universitas Ibrahimy, 200 siswa SMA Ibrahimy 2, serta 200 perwakilan dari SMK Ibrahimy 1. Kegiatan ini menjadi kesempatan berharga bagi santri untuk menelaah dan memperluas wawasan, khususnya di bidang seni dan bisnis.
“Dengan adanya kegiatan ini, semoga ke depan santri mampu melahirkan agen perubahan yang inovatif dan inspiratif, sehingga tercetak menjadi pribadi yang mandiri secara ekonomi,” ujar ketua panitia.
Pelaksanaan seminar ini memerlukan waktu persiapan selama tiga minggu dengan berbagai tantangan yang dihadapi. Beragam upaya dilakukan demi menyukseskan acara, mulai dari menjalin kolaborasi dengan sejumlah lembaga di lingkungan pesantren hingga menarik minat santri agar berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut.
Pada sesi inti, narasumber menyampaikan sejumlah poin penting terkait konsep santripreneur serta strategi dalam mengembangkan usaha. Di tengah pemaparannya, narasumber menegaskan bahwa santri memiliki dua tangan, satu untuk berdoa dan satu lagi untuk berkarya.
Narasumber yang merupakan alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah tersebut telah berhasil mengembangkan produknya hingga ke berbagai penjuru dunia. Hal ini menjadi bukti bahwa kreativitas santri di lingkungan pesantren memiliki peluang besar untuk bersaing di kancah global, sekaligus menjadi pembeda dengan para entrepreneur lainnya karena dilandasi nilai spiritual yang kuat.
Melalui pengalaman yang dibagikannya, narasumber memberikan motivasi kepada para santri bahwa identitas sebagai santri mampu mengantarkan seseorang meraih kesuksesan di berbagai bidang secara luar biasa.

